Beberapa waktu yang lalu, sayang menjenguk ibu seorang sahabat lama yang sedang dirawat di Rumah Sakit, disana saya bertemu dengan salah seorang menantunya. Sambil menunggu ibu teman saya di therapy kami berdua berbicara banyak hal, terutama hal-hal yang berkaitan dengan agama dan ada satu cerita yang menurut saya sangatlah menarik dan patut untuk direnungkan. Nah, inilah cerita dari teman saya.
Alkisah ada dua orang anak manusia, dimana yang pertama adalah seorang manusia yang sangat Sholeh. Suatu ketika dia bepergian ke suatu tempat, ternyata dalam perjalanan dia tersesat padahal dia tidak banyak membawa bekal. Orang itu berdoa kepada Allah SWT agar diberikan makanan dan minuman serta ditunjukkan jalan agar tidak tersesat. Namun, ternyata Allah SWT tidak mengabulkan doanya, sehingga akhirnya karena kelaparan dan kehausan orang yang Sholeh itu terjatuh dan meninggal dunia.
Sementara itu, ada anak manusia yang "Kafir" (maaf nih, saya menulis berdasarkan apa yang diceritakan teman saya). Walaupun orang tersebut Kafir, tapi dia sangat baik, tidak sombong dan dermawan. Suatu ketika orang ini jatuh sakit dan dalam sakitnya dia teringat pada makanan kegemarannya yang sangat sulit ditemukan di tempat dia tinggal, karena makanan tersebut harus didatangkan dari tempat lain yang sangat jauh. Entah kenapa, tiba-tiba saja seorang saudaranya datang berkunjung dan membawakan dia oleh-oleh makanan yang sangat diharapkannya. Tak lama kemudian orang ini meninggal dunia.
Malaikat yang menyaksikan kejadian itu bertanya kepada Allah SWT: "Ya Allah, mengapa doa Hamba-Mu yang Sholeh itu tidak Engkau kabulkan, sementara doa orang yang Kafir itu Engkau kabulkan dengan segera?"
Allah SWT menjawab: "Hai Malaikat, umatku yang Sholeh itu masih punya suatu ganjalan/kesalahan yang sampai sekarang belum dia perbaiki dan ganjalan/kesalahan itu akan menghalanginya untuk masuk Surga dan menerima nikmat-Ku, sehingga doanya tidak Aku kabulkan untuk membayar/melunasi kesalahannya. Sehingga saat dia mati nanti semuanya kesalahan dan dosanya sudah dihapuskan."
"Lalu bagaimana dengan orang Kafir itu Ya Allah?" Malaikat kembali bertanya.
"Orang itu walaupun hatinya baik, tidak sombong dan dermawann namun dia tidak mau beriman kepada-Ku, maka saat dia sakit dan memohon kepada-Ku langsung Aku kabulkan doanya itu. Dengan demikian Aku sudah membayar lunas semua kebaikannya di dunia, sehingga dengan demikian Aku tidak punya hutang dunia dengannya dan Aku dapat mengazabnya saat di akhirat nanti."
Nah, kira-kira seperti itulah garis besar dari cerita yang saya dapatkan dari seorang kawan lama. Mungkin ada pesan moral yang bisa kita dapatkan dari cerita itu. Allah SWT memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dimana Dia mengasihi seluruh umat manusia yang ada, baik mereka beriman ataupun tidak beriman kepada-Nya. Tapi... rasa Sayang Allah SWT hanyalah untuk umat manusia yang mau beriman kepada-Nya, yang mau menjauhi semua laranganNya dan mengikuti semua petunjukNya. Insya Allah...
Alkisah ada dua orang anak manusia, dimana yang pertama adalah seorang manusia yang sangat Sholeh. Suatu ketika dia bepergian ke suatu tempat, ternyata dalam perjalanan dia tersesat padahal dia tidak banyak membawa bekal. Orang itu berdoa kepada Allah SWT agar diberikan makanan dan minuman serta ditunjukkan jalan agar tidak tersesat. Namun, ternyata Allah SWT tidak mengabulkan doanya, sehingga akhirnya karena kelaparan dan kehausan orang yang Sholeh itu terjatuh dan meninggal dunia.
Sementara itu, ada anak manusia yang "Kafir" (maaf nih, saya menulis berdasarkan apa yang diceritakan teman saya). Walaupun orang tersebut Kafir, tapi dia sangat baik, tidak sombong dan dermawan. Suatu ketika orang ini jatuh sakit dan dalam sakitnya dia teringat pada makanan kegemarannya yang sangat sulit ditemukan di tempat dia tinggal, karena makanan tersebut harus didatangkan dari tempat lain yang sangat jauh. Entah kenapa, tiba-tiba saja seorang saudaranya datang berkunjung dan membawakan dia oleh-oleh makanan yang sangat diharapkannya. Tak lama kemudian orang ini meninggal dunia.
Malaikat yang menyaksikan kejadian itu bertanya kepada Allah SWT: "Ya Allah, mengapa doa Hamba-Mu yang Sholeh itu tidak Engkau kabulkan, sementara doa orang yang Kafir itu Engkau kabulkan dengan segera?"
Allah SWT menjawab: "Hai Malaikat, umatku yang Sholeh itu masih punya suatu ganjalan/kesalahan yang sampai sekarang belum dia perbaiki dan ganjalan/kesalahan itu akan menghalanginya untuk masuk Surga dan menerima nikmat-Ku, sehingga doanya tidak Aku kabulkan untuk membayar/melunasi kesalahannya. Sehingga saat dia mati nanti semuanya kesalahan dan dosanya sudah dihapuskan."
"Lalu bagaimana dengan orang Kafir itu Ya Allah?" Malaikat kembali bertanya.
"Orang itu walaupun hatinya baik, tidak sombong dan dermawann namun dia tidak mau beriman kepada-Ku, maka saat dia sakit dan memohon kepada-Ku langsung Aku kabulkan doanya itu. Dengan demikian Aku sudah membayar lunas semua kebaikannya di dunia, sehingga dengan demikian Aku tidak punya hutang dunia dengannya dan Aku dapat mengazabnya saat di akhirat nanti."
Nah, kira-kira seperti itulah garis besar dari cerita yang saya dapatkan dari seorang kawan lama. Mungkin ada pesan moral yang bisa kita dapatkan dari cerita itu. Allah SWT memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dimana Dia mengasihi seluruh umat manusia yang ada, baik mereka beriman ataupun tidak beriman kepada-Nya. Tapi... rasa Sayang Allah SWT hanyalah untuk umat manusia yang mau beriman kepada-Nya, yang mau menjauhi semua laranganNya dan mengikuti semua petunjukNya. Insya Allah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar