Tidak dapat dipungkiri bahwa Sinetron (Sinema Elektronik) sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Boleh dibilang hampir semua stasiun TV swasta menjadikan Sinetron sebuah Primadona, yang dengan sendirinya menjadi magnet bagi pemasang iklan yang notabene adalah sumber utama pemasukan dari stasiun TV swasta.
Lihat saja, sebuah Sinetron yang laris manis, dibuat secara Stripping dan ditayangkan terus menerus setiap hari. Bagi stasiun TV yang kebetulan tayangannya mendapat "Rating" yang tinggi akan sangat beruntung karena para pemasang iklan sudah antri berminggu-minggu atau mungkin berbulan-bulan sebelumnya, karena Sinetron yang menjadi "Hits" itu ditayangkan pada jam utama (Prime Time), sekitar jam 20.00 WIB - 21.00 WIB.
Larisnya Sinetron tersebut menjadikan stasiun TV bak memelihara "Angsa Bertelur Emas", mereka tidak akan mau menghentikan tayangannya, kalau perlu tayangan tersebut akan dibuat secara episode, demikian terus sampai akhirnya hasil survey menyatakan "Rating" sudah turun.
Akibatnya cerita yang mungkin pada awalnya sudah ditargetkan akan selesai dalam beberapa episode saja akan diulur sepanjang mungkin. Bertele-tele? Tidak masalah, yang penting laris manis.
Jujur saja saya tidak menyukai Sinetron lebih karena faktor tersebut, belum lagi isinya kebanyakan adalah Konflik... Konflik... Intrik... dan sebagainya. Terkadang saya menjadi heran, apakah seperti ini Wajah atau Potret masyarakat kita? Semoga saja tidak.
Tapi, pada akhirnya semua itu kembali pada diri kita masing-masing. Jika tidak suka, pindah saya ke stasiun lain atau kalau memang suka ditonton saja sampai puas atau bosan!
Lihat saja, sebuah Sinetron yang laris manis, dibuat secara Stripping dan ditayangkan terus menerus setiap hari. Bagi stasiun TV yang kebetulan tayangannya mendapat "Rating" yang tinggi akan sangat beruntung karena para pemasang iklan sudah antri berminggu-minggu atau mungkin berbulan-bulan sebelumnya, karena Sinetron yang menjadi "Hits" itu ditayangkan pada jam utama (Prime Time), sekitar jam 20.00 WIB - 21.00 WIB.
Larisnya Sinetron tersebut menjadikan stasiun TV bak memelihara "Angsa Bertelur Emas", mereka tidak akan mau menghentikan tayangannya, kalau perlu tayangan tersebut akan dibuat secara episode, demikian terus sampai akhirnya hasil survey menyatakan "Rating" sudah turun.
Akibatnya cerita yang mungkin pada awalnya sudah ditargetkan akan selesai dalam beberapa episode saja akan diulur sepanjang mungkin. Bertele-tele? Tidak masalah, yang penting laris manis.
Jujur saja saya tidak menyukai Sinetron lebih karena faktor tersebut, belum lagi isinya kebanyakan adalah Konflik... Konflik... Intrik... dan sebagainya. Terkadang saya menjadi heran, apakah seperti ini Wajah atau Potret masyarakat kita? Semoga saja tidak.
Tapi, pada akhirnya semua itu kembali pada diri kita masing-masing. Jika tidak suka, pindah saya ke stasiun lain atau kalau memang suka ditonton saja sampai puas atau bosan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar