Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan sudah menyala kuning. Joko yang sedang terburu-buru segera menekan pedal gas mobilnya, dia terus melaju mencoba untuk menerobos, tiba-tiba… “Priit!” seorng polisi memintanya berhenti.
Dia segera berhenti dan melihat ke polisi itu. Ya ampun, ternyata polisi itu adalah Boyke, temannya semasa SMA dulu, maka legalah Joko.
“Halo Boyke, wah… sepertinya saya bakalan kena tilang nih. Saya memang agak terburu-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah, hari ini dia ulang tahun dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya, Tentuny aku tidak boleh terlambat, dong.”
Boyke: “Halo Joko, kita jumpa lagi nih. Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”
Dengan ogah-ogahan Joko menyerahkan SIM lalu menutup kaca jendelanya. Boyke terlihat menulis surat tilang dan setelah agak lama, Boyke kembali & mengetuk kaca jendela. Joko memandangi wajah Boyke dengan kecewa, karena dia berharap seorang teman lama tentunya akan membantunya.
Dibukanya kaca jendela itu sedikit, cukup untuk memasukkan surat tilang dam Boyke kembali ke posnya.
Joko mengambil surat tilang, tapi… ternyata SIM-nya dikembalikan bersama sebuah catatan, ternyata bukan surat tilang. Catatan apa itu?
“Halo Joko, tahukah kamu Joko, aku dulu pernah punya seorang anak perempuan. Sayang sekali, dia sudah meninggal karena tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah, persis seperti dirimu saat ini. Pengemudi itu hanya dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, dia bisa bertemu dan memeluk ke-tiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk dan kami sayang. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah di jalan dan semoga selamat sampai di rumah. Oh ya, salam dariku untuk keluargamu. Boyke”
Joko terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Boyke, tapi Boyke sudah meninggalkan posnya.
Akhirnya Joko berlalu, sepanjang perjalanan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan dan dia juga berdoa semoga sahabat lamanya segera diberikan kembali anak yang sudah lama mereka rindukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar